Hukum

Mampu tapi enggan Berkurban, bagaimana hukumnya?

Tidak terasa sebentar lagi Idul Adha akan menjumpai kita, olehnya tentu kita sebagai umat muslim haruslah merasa gembira. Karena selain merupakan hari raya umat islam, pada Idul Adha juga disyariatkan untuk berkurban. Lantas apakah hukum berkurban ?? Perlu diketahui bahwa perihal ini merupakan sunnah Nabi Muhammad ﷺ dan juga merupakan sunnah Nabi Ibrahim alaihi salam. Diriwayatkan dari hadits yang bersumber dari Zaid bin Arqam, para sahabat Nabi bertanya tentang masalah kurban ini, Beliau kemudian bersabda:

سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ

Artinya :

“Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami peroleh dengan melakukannya?” beliau menjawab: “Setiap rambut terdapat kebaikan.” Mereka berkata, “Bagaimana dengan bulunya wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “pada setiap rambut yang ada pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan.” [H.R. Ibnu Majah No. 3118]

Dalam hadits lain juga disebutkan :

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يُحَدِّثُ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا قِيلَ لِسُفْيَانَ فَإِنَّ بَعْضَهُمْ لَا يَرْفَعُهُ قَالَ لَكِنِّي أَرْفَعُهُ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar Al-Makki telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdurrahman bin Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf bahwa dia mendengar Sa’id bin Musayyab menceritakan dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah tiba sepuluh (dzulhijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun.” Dikatakan kepada Sufyan, “Sebagian orang tidak memarfu’kan (hadits ini)?” Sufyan menjawab, “Akan tetapi saya memarfu’kannya.”

Imam Syafi’i  Rahimahullah berkata : “Hadits ini adalah dalil bahwasanya hukum kurban tidaklah wajib karena Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jika kalian ingin menyembelih kurban’. Seandainya hukum berkurban itu wajib, maka beliau akan bersabda, ‘Janganlah memotong rambut badannya hingga ia berkurban’ (Disebutkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Al-Kubro, 9: 263)

Kemudian hukum berkurban yakni berupa perintah Allah tentang hal tersebut juga terdapat dalam Al-Quran, sebagaimana Allah berfirman :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berkurbanlah.” (Q.S. Al-Kautsar : 2)

Menurut beberapa tafsiran, makna ayat ini  adalah “berkurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu ‘Abbas, juga menjadi pendapat mayoritas ulama.

Dan yang paling penting dari segala amalan adalah niatnya. Termasuk dalam ibadah kurban ini keikhlasan dan ketaqwaan adalah yang utama, bukan daging atau darah kurbannya. Allah berfirman :

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. Al-Hajj: 37)

Dari beberapa dalil berupa Hadits dan Al-Quran diatas, sudah jelas bahwa berkurban itu hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) menurut pendapat yang kuat. Dan pendapat ini pula lah yang disetujui oleh mayoritas ulama. Sehingga orang yang tidak berkurban padahal mampu untuk berkurban, maka tidak berdosa. Hanya saja, para ulama memperingatkan bagi yang mampu tapi enggan berkurban, bahwa mereka telah melakukan perbuatan yang makruh (dibenci).

Demikian pembahasan artikel tentang hukum berkurban, semoga kita semua diberikan rezeki yang melimpah oleh Allah, agar kita dapat berpartisipasi dalam ibadah ini tiap tahunnya, Amin. Selamat berkurban 🙂

 

Tags
Lihat Lagi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close