Nikah

Hukum Wanita Memakai Pakaian Ketat Ketika Shalat

Shalat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Dan Islam telah mengatur segala hal tentang shalat, baik itu gerakannya, bacaanya, arahnya, jumlahnya, waktunya, syaratnya, dan pembatal nya. Namun seiring perkembangan zaman, maka fashion termasuk dalam hal ini adalah pakaian juga ikut berubah. Nah persoalannya adalah apakah hukum memakai pakaian ketat ketika shalat, apakah batal ?, bagaimana dengan hukum memakai pakaian tipis ketika shalat ? berikut infoislam akan mengulasnya untuk anda.

Memakai Pakaian Ketat Ketika Shalat

Syaikhul Islam Shaleh Al-Fauzan, ketika ditanyai tentang hal ini, beliau rahimahullah menjawab :

“Pakaian ketat yang membentuk lekukan tubuh tidak boleh digunakan baik itu oleh laki-laki apalagi perempuan. Bahkan untuk perempuan pelarangannya lebih berat lagi karena fitnah yang ditimbulkan juga lebih besar.

Adapun ketika shalat, apabila auratnya telah tertutupi dengan pakaian tersebut maka sholatnya tetap SAH, namun ia tetap berdosa. Karena adakalanya ada beberapa amalan shalat yang tidak bisa ia lakukan dengan semourna dikarenankan ketatnya pakaian yang ia gunakan. Selain itu pakaian seperti ini juga dapat mengundang fitnah bagi orang yang memandangnya.”

Oleh karena itu seorang wanita hendaknya untuk tidak memakai pakaian ketat serta menutup seluruh anggota tubuhnya ketika shalat. Selain itu juga ia harus menggunakan pakaian yang lebar dan panjang serta tidak tipis menerawang.  

Perhatikanlah sabda Rasulullah ﷺ sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat; kaum membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia memukuli orang dan wanita-wanita yang berpakaian (tapi) telanjang, mereka berlenggak-lenggok dan condong (dari ketaatan), rambut mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan sejauh ini dan ini.” (H.R. Muslim No. 5098)

Memakai Pakaian Tipis Ketika Shalat

Adapun tetang wanita yang menggunakan pakaian tipis ketika shalat, sehingga menerawang dan Nampak kulitnya, maka hal ini tidak boleh. Sebagaimana Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullahu, ketika ditanyai tentang hal ini Beliau menjawab :

“Wajib bagi seseorang untuk menutup auratnya ketika shalat dan ia tidak boleh shalat dalam keadaaan telanjang, hal ini berlaku untuk  pria dan wanita.”

Aurat Bagi Laki-Laki

Bagi Laki-laki, auratnya adalah antara pusar dan lutut. Namun apabila ia hendak sholat maka disertai dengan menutup dua pundak atau salah satunya bila ia mampu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنْ كَانَ الثَّوْبُ وَاسِعًا فَالْتَحِف بِهِ، وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ

“Bila pakaian/kain itu lebar/lapang maka berselimutlah engkau dengannya (menutupi pundak) namun bila kain itu sempit bersarunglah dengannya (menutupi tubuh bagian bawah).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Juga berdasar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: 

لاَيُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ

Tidak boleh salah seorang dari kalian shalat dengan mengenakan satu pakaian/kain sementara tidak ada sedikitpun bagian dari kain itu yang menutupi pundaknya.”

Aurat Bagi Wanita

Adapun untuk wanita, maka ketika shalat seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajahnya.

Para Ulama berbeda pendapat tentang dua telapak tangan wanita. Sebagian Ulama mewajibkan untuk menutup kedua telapak tangan. Sedangkan sebagian lain memberi keringanan (rukhshah) untuk membuka keduanya.

Kedua pendapat ini boleh dilakukan, insya Allah. Namun yang lebih utama adalah dengan menutupnya. Adapun untuk dua telapak kaki, maka mayoritas Ulama berpendapat keduanya wajib ditutup. Sebagaimana hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berikut : 

إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ

“(Boleh) apabila dira’ tersebut luas/lebar hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Bulughul Maram berkata, “Para imam menshahihkan mauqufnya hadits ini atas Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, yakni bahwa ucapan ini adalah perkataan Ummu Salamah bukan dari perkataan Nabi Muhammad ﷺ.”

Kesimpulan

Wajib bagi seorang muslim baik laki-laki ataupun perempuan untuk menggunakan pakaian yang dapat menutupi auratnya. Dan pakaian yang tipis tidaklah menutup aurat, sehingga apabila digunakan untuk shalat, maka shalatnya batal.

Shalat merupakan tiang agama, dan rukun islam kedua setelah syahad, maka seorang muslim yang baik hendaknya lebih memberikan perhatian terhadap shalat,  menyempurnakan syarat-syaratnya serta berhati-hati dari hal-hal  yang dapat membatalkannya.

Baca Juga : Hukum Melawan Suami Menurut Islam

Demikianlah Pembahasan Tentang Hukum Wanita Memakai Pakaian Ketat Ketika Shalat. Semoga bermanfaat dan semakin menambah wawasan keislaman kita, Amin

Tags
Lihat Lagi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close