Hukum

Hukum Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga

Ketika pasangan pengantin baru selesai menikah, biasanya pasangan tersebut masih tingal sementara di rumah mertuanya untuk sementara waktu. Hal ini pada awalnya mungkin bagus dan berjalan mulus, namun dikemudian hari tentu akan timbul permasalahan dan gesekan. Salah satu masalah yang kerap terjadi adalah terlibatnya mertua dalam urusan rumah tangga mereka. Ini memang sulit dihindari, karena masih tinggal bersama, namun hal ini bukan jaminan bahwa bahkan setelah pasangan tersebut membeli rumah sendiri, atau tinggal ditempat lain, masalah akan beres. Kadangkala mertua masih terus mengawasi, dan ingin selalu terlibat dalam setiap masalah yang terjadi. Lantas bagaimanakah pandangan islam tentang hal ini ? Berikut infoislam.id akan mengulasnya untuk anda

Mertua Ikut Campur Urusan Rumah Tangga

Mertua atau orang tua tidak sepatutnya untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya, seorang anak haruslah dibiarkan untuk mandiri dalam urusan rumah tangganya. Anak yang baru menikah perlu untuk merasakan sendiri serta mengatasi sendiri masalah-masalah dalam rumah tangganya

Mertua atau orang tua haruslah hanya menjadi penasehat dan penengah, bukan menjadi penentu atau pengambil kebijakan di rumah tangga anaknya. Termasuk dalam hal-hal yang sepele sekalipun, karena ada banyak sekali kasus perceraian yang terjadi disebabkan oleh campur tangan mertua.

Rasulullah ﷺ bersabda :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

Dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barang siapa dapat mengasuh dua orang anak perempuannya hingga dewasa, maka aku akan bersamanya di hari kiamat kelak.’ Beliau merapatkan kedua jarinya.” (H.R. Muslim No. 4765)

Hadits diatas menjelaskan bahwa kewajiban orang tua hanyalah sampai anaknya dewasa atau menikah. Setelah itu maka yang bertanggung jawab adalah suaminya. Sehingga campur tangan orang tua tidak lagi diperlukan.

Mertua Ikut Campur Boleh Apabila

Mertua ataupun orang tua dibolehkan ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-menantunya apabila memenuhi kriteria atau hal-hal sebagai berikut :

1. Terjadi permasalahan serius

Apabila terjadi permasalahan serius dalam rumah tangga anak, misal sang menantu tidak mampu lagi menafkahi istrinya, atau menelantarkannya, atau melakukan kekerasan fisik terhadapnya yang dapat membahayakan nyawa, dsb.

2. Diminta untuk menjadi penengah

Apabila terjadi permasalahan dalam rumah tangga anaknya, sang mertua boleh ikut campur apabila diminta. Namun hendaknya ia berlaku adil sehingga rumah tangga tersebut tetap terjaga.

3. Dimintai saran dan masukan

Ketika mertua dimintai saran dan masukan, maka tentu ini diperbolehkan, karena mertua memliki lebih banyak pengalaman dalam hal ini

4. Melihat kemungkaran

Apabila melihat terjadinya kemungkaran yang nyata, seperti perselingkuhan, ataupun hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat islam, maka mertua boleh ikut campur dengan mencegah sehingga tidak trjadi lagi kemungkaran tersebut.

Cara Menyikapi Mertua yang Selalu Ikut Campur

Perilaku mertua ikut campur dalam urusan rumah tangga sudah biasa terjadi. Hal ini tidak bisa dihindari, namun yang penting adalah cara kita menanggapinya. Mertua juga termasuk orang tua kita sehingga harus kita perlakukan dengan baik. Sehingga cara terbaik berurusan dengan mertua ikut campur adalah sebagai berikut :

1. Tinggal terpisah dari mertua

Cara ampuh yang paling utama adalah dengan tidak tinggal di rumah mertua. Seorang yang telah menikah harus semaksimal mungkin tinggal terpisah, meski harus ngontrak atau menyewa kos, ini lebih baik, karena ini akan melatih kemandiriannya dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh lika-liku.

2. Jangan Serita Masalah Rumah Tangga ke Orangtua

Ketika terjadi permasalahan dalam rumah tangga, kedua pasangan suami-istri ini hendaknya bisa menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri. Jangan karena masalah sepele kemudian lapor kepada orang tua. Ini berbahaya dan hanya akan memperburuk keadaan. Cukuplah hal-hal yang buruk dirumah tetap dirumah, karena sejatinya pasangan itu saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan satu sama lain. Allah ﷻ berfirman :

هُنَّ لِبَاسٞ لَّكُمۡ وَأَنتُمۡ لِبَاسٞ لَّهُنَّۗ

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (Q.S. Al-Baqarah : 187)

3. Sabar dan berdoa

Ketika mertua telah masuk terlalu jauh dalam urusan rumah tangga, serta melakukan hal-hal yang menyakitkan hati, dan sejenisnya, maka hendaklah kita bersabar dan bersabar. Sesungguhnya sabar itu tidak memiliki batas, dan hendaknya memohon kepada Allah agar diberikan jalan keluar. Karena Allah ﷻ adalah sebaik-baik pemberi solusi.

4. Menegur dengan halus

Ketika mertua ikut campur terlalu berlebihan dalam rumah tangga, maka boleh di tegur atau diingatkan. Tapi tentu dengan cara-cara yang santun dan lemah lembut. Mertua harus diberi pemahaman bahwa mereka (anak dan menantu) telah dewasa dan dapat menentukan pilihan sendiri. Mereka telah memiliki tanggung jawab masing-masing, sehingga tidak butuh intervensi dan diatur-atur lagi. Dengan diberikan pemahaman dengan lemah lembut diharapkan mertua dapat berubah dan sadar akan kesalahannya.

Baca Juga : Doa Untuk Memikat Hati Wanita menurut Islam

Demikianlah pembahasan tentang hukum mertua ikut campur dalam urusan rumah tangga, semoga bermanfaat dan semakin menambah wawasan keislaman kita, Amin

Penulis : Abu Abdillah

Tags
Lihat Lagi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close