HukumShalat

Hukum Menyentuh Wanita Setelah Wudhu

Wudhu merupakan salah satu syarat shalat, sehingga orang yang tidak berwudhu maka shalatnya tidak sah. Sebagaimana shalat dan ibadah lainnya, wudhu juga memiliki pembatal-pembatal yang dapat membuat wudhu tidak sah dan harus diulangi kembali. Dan setiap muslim tentu paham hal-hal yang dapat membatalkan wudhu. Namun diantara itu ada suatu hal yang sering menjadi perbedaan pendapat, yakni tentang menyentuh wanita setelah wudhu. Apakah hukum menyetuh wanita setelah wudhu ? apakah menyentuh wanita dapat membatalkan wudhu ? Apakah tetap batal walaupun tudak disengaja ? Mengenai hal ini, berikut infoislam akan mengulasnya untuk Anda, sebagai berikut.

Menyentuh Wanita Setelah Wudhu

Mengenai hukum menyentuh wanita setelah wudhu, para Ulama berbeda pendapat tentang hal ini, dan secara umum terbagi menjadi tiga (3) pendapat sebagai berikut :

1. Membatalkan wudhu

Pendapat ini menyatakan bahwa menyentuh wanita, secara langsung tanpa alas maka wudhunya batal. Meski menyetuhnya tidak disertai dengan syahwat, maka tetap batal wudhunya. Pendapat ini yang dipegang oleh Imam Syafi’I Rahimahullah.

2. Tidak membatalkan wudhu

Pendapat menyatakan bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu. Namun apabila menyentuhnya disertai dengan syahwat maka barulah itu membatalkan wudhunya. Pendapat inilah yang dipegang oleh Imam Malik dan Imam Ahmad Rahimahumallah

3. Tidak membatalkan wudhu kecuali Jima

Pendapat ini menyatakan bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu meskipun disertai dengan syahwat. Wudhu baru batal apabila terjadi persentuhan berat, yakni bersetubuh / berhubungan intim. Pendapat ini yang dipegang oleh ImamAbu Hanifah.

Semua pendapat diatas berdalil dengan firmah Allah ﷻ sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Maidah : 6)

Para ulama berbeda pendapat ketika menafsirkan ayat ini, khusus nya pada kata (لَٰمَسۡتُمُ) atau (لَمَسَ) yakni “menyentuh”. Imam Syafi’I mengartikan “menyentuh” disini secara harifyah, sedangkan Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat bahwa “menyentuh” yang dimaksud adalah menyentuh dengan syahwat. Sebagaimana Rasulullah pernah menyentuh istrinya ketika sedang shalat, pada hadits berikut :

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ

Dari ‘Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Aku pernah tidur di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kakiku berada di arah kiblatnya. Jika akan sujud beliau menyentuhku dengan tangannya, maka aku pun menarik kakiku. Dan jika beliau berdiri aku luruskan kembali kakiku, dan pada zaman itu rumah-rumah tidak memiliki lampu.” (H.R. Bukhari No. 483)

Sedangkan Imam Abu Hanifah mengartikan kata “menyentuh” berdasar penafsiran Ibnu Abbas yakni hubungan intim, dan bahwa pakar bahasa menyatakan bahwa kata ini memang maknanya seperti itu apabila disertai dengan kata “wanita” setelahnya, hal ini juga dikuatkan oleh hadis Aisyah bahwa Nabi ﷺ pernah mencium istrinya kemudian shalat tanpa berwudhu.

Kesimpulan yang dapat kami sampaikan adalah bahwa pendapat yang lebih kuat dalam masalah menyentuh wanita setelah wudhu adalah Pendapat Ke-2 yaitu wudhu tidak batal ketika menyentuh wanita, selama tidak disertai syahwat, dan pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad inilah yang tengah-tengah dan lebih berhati-hati. Wallahu A’lam

Baca Juga : Dzikir dan Doa setelah Shalat Fardu

Demikian pembahasan tentang Hukum menyentuh wanita setelah wudhu , semoga bermanfaat dan semakin menambah wawasan keislamana kita, Amin

Penulis Abu Abdillah

Tags
Lihat Lagi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close