Nikah

Hukum Menikah atau Membujang, Mana yang Utama ?

Infoislam.id – Menikah sudah tidak diragukan lagi merupakan adalah sunnah Nabi Muhammad ﷺ, dan umat islam terutama yang masih bujang atau pemuda yang telah mampu menikah maka diperintahkan oleh Nabi ﷺ untuk segera menikah. Namun tahukah anda bahwa ada diantara para ulama kaum muslimin yang tidak menikah sampai ia wafat. Lantas mengenai hukum menikah atau membujang, manakah yang utama ? Terkait masalah hukum menikah ini, Jawabannya ya tergantung….. Bisa saja membujang lebih utama daripada menikah, namun tentu pada umumnya menikha itu lebih baik. Kaidah yang perlu diperhatikan adalah : “Hal apa saja yang lebih memudahkan seseorang untuk mempersiapkan dan membangun kehidupan akhiratnya, maka itulah yang lebih baik.” Allah ﷻ berfirman :

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 17)

Membujang Lebih Utama

Bagi penuntut ‘ilmu atau orang yang ingin fokus mendalami ilmu membujang itu lebih baik. Al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) menyatakan :

يُسْتَحَبُّ لِلطَّالِبِ أَنْ يَكُونَ عَزَبًا مَا أَمْكَنَهُ لِئَلَّا يَقْطَعَهُ الِاشْتِغَالُ بِحُقُوقِ الزَّوْجَةِ وَالِاهْتِمَامِ بِالْمَعِيشَةِ عَنْ إكْمَالِ طَلَبِ الْعِلْمِ

“disukai seorang penuntut ilmu untuk membujang semampunya agar kesibukan dia dalam menunaikan hak-hak istri dan mencari nafkah tidak memutusnya dari kesempurnaan menuntut ‘ilmu.

Beliau berhujjah dengan hadits

خَيْرُكُمْ بعد الـمِائتين خفيف الْحَاذِ وَهُوَ الَّذِي لَا أَهْلَ لَهُ وَلَا وَلَدَ

“Sebaik-baik kalian setelah dua ratus tahun adalah yang ringan kondisinya, yakni dia tidak punya keluarga dan tidak punya anak.”

Imam an Nawawi mengatakan: “ini adalah keadaan manusia pada umumnya, dan ini semua sesuai dengan madzhab kami (Syafi’i), yakni orang yang tidak membutuhkan untuk menikah maka lebih disukai dia meninggalkan menikah.”

Oleh karena itulah kita dapati orang-orang yang menghabiskan hidup mereka untuk ilmu dan dakwah. Diantaranya adalah Imam At-Thabari (w. 310 H), seorang ahli tafsir, ahli fikih, ahli atsar, ahli sejarah, ahli nahwu, ahli ‘arudh, ahli sya’ir, al muqri’, al mu’addib, al muhaqqiq dan al-mudaqqiq, hingga ajal menjemput saat beliau berusia 68 tahun, beliau tetaplah belum menikah.

Alasannya adalah karena beliau lebih memilih menyibukkan diri dengan ilmu, hingga tidak terfokus untuk nikah. Seorang muridnya pernah menghitung berapa lembar karyanya. Jika dirata-rata sejak baligh hingga meninggal, beliau telah menulis 14 lembar perhari, itu beliau lakukan dengan tulisan tangan.

Beliau pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Apakah kalian semangat untuk belajar tafsir Alquran?” Mereka menjawab: “berapa kadarnya?” Beliau jawab: “30 ribu lembar”. Mereka berkata: “ini akan menghabiskan umur sebelum sempat khatam”. Lalu Imam at Thabari meringkasnya menjadi 3 ribu lembar dan mengajarkan kepada mereka dalam tempo 7 tahun.

Begitu juga Ulama lain seperti Bisyri al-Hâfi al-Marwazi, Abu Bakr al-Anbari, Hannad bin as-Sariy, Imam an Nawawi, dan para Ulama lain yang hingga wafat  tidak sempat menikah.

Oleh karena itu, hukum menikah pada situasi seperti ini berubah dan membujang itu baik jika memang sibuk sekali berdakwah dan menuntut ilmu, serta mampu menjaga diri dari mendekati zina. Namun jika aktivitas dakwahnya biasa saja, mengaji dan menulis juga sangat biasa, maka tentu hukum menikah adalah tetap dan lebih baik untuk segera menikah.

Menikah Lebih Baik

Hukum Menikah itu adalah sunnah dan menjadi hal baik jika seseorang yang telah mampu untuk segera menikah. Namun sebelum menikah hendaknya terlebih dahulu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Memperbaiki Niat, yakni karena Allah dan untuk membangun kehidupan akhirat yang lebih baik
  2. Memiliki kemampuan untuk menafkahi istri
  3. Mengetahui hukum terkait masalah rumah tangga
  4. Menemukan calon istri yang shalihah agar bisa menyemangati dan membantunya untuk taat kepada Allah
  5. Keluarga tidak menjadikannya lalai akan ibadahnya kepada Allah.

Jika tidak terpenuhi salah satunya maka nikah tidak akan membawa berkah, namun hanya akan memperberat hisab seseorang di akhirat kelak. Seseorang bisa saja teralihkan fokus mencari kehidupan akhiratnya jika dia menikahi seseorang yang lebih dominan memikirkan dunia semata. Rasulullah saw bersabda:

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Tidaklah aku melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang dapat menghilangkankan akal laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian (para wanita).”

Tentang hadits ini, Imam Ibnu Baththal berkata:

فإذا كن يغلبن الحازم فما الظن بغيره

“Jika wanita-wanita (fitnahnya) bisa menguasai laki-laki yang teguh beragama, bagaimana kira-kira (kondisi) laki-laki yang tidak teguh agamanya.”

Baca Juga : Cara Memilih Calon Istri Menurut Islam

Jika suami yang punya pemahaman agama yang kuat saja bisa kehilangan  akal ketika menghadapi istri yang lalai, apalagi jika suami tersebut juga orang yang lalai, maka hancurlah keluarga tersebut. Jika suami yang teguh saja bisa hilang akalnya menghadapi istri yang lalai, tentu anak-anaknya akan lebih rusak lagi jika diasuh oleh istri seperti itu. Wallau A’lam.

[MTaufikNT]

Lihat Lagi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close