Hukum

Hukum Memuji Orang Lain Dalam Islam

Pujian atau memuji orang lain adalah bentuk pengagungan seseorang terhadap orang lain melalui perkataan yang cenderung dilebih-lebihkan. Pada dasarnya sikap manusia adalah suka dipuji atau dimuliakan, dan pada pujian memang terdapat manfaat namun mudharat yang ditimbulkan nya jauh lebih besar, seperti riya, ujub, dan sebagainya. Padahal kita tahu bahwa yang paling berhak untuk dipuji dan muliakan adalah Allah ﷻ. Olehnya pada kesempatan kali ini, infoislam akan membahas hukum memuji orang lain menurut syariat Islam, sebagai berikut.

Hukum Memuji Orang Lain

Adapun Hukum memuji orang lain itu terbagi 2 (dua), yakni boleh dan dilarang. Hal ini dapat terjadi tergantung pada situasi dan kondisi masing-masing, sebagai berikut :

Pujian Yang Dilarang

Pada dasarnya hukum memuji orang lain adalah terlarang, dan ini berbahaya bagi orang lain yang dipuji, karena dapat menimbulkan sifat ujub (bangga) dan sombong. Sifat tersebut pada akhirnya dapat menghapuskan pahala dan menjerumuskan seseorang kedalam neraka, Naudzubillahi min dzalik

Rasulullah ﷺ bersabda :

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ وَيُطْرِيهِ فِي الْمِدْحَةِ فَقَالَ أَهْلَكْتُمْ أَوْ قَطَعْتُمْ ظَهْرَ الرَّجُلِ

Dari Abu Musa dia berkata; “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam pernah mendengar seseorang memuji orang lain secara berlebihan, lalu beliau bersabda: “Kalian telah binasa-atau: Kalian telah mematahkan punggung seseorang.” (H.R. Bukhari No. 5600)

Dalam hadits lain disebutkan :

عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ قَامَ رَجُلٌ فَأَثْنَى عَلَى أَمِيرٍ مِنْ الْأُمَرَاءِ فَجَعَلَ الْمِقْدَادُ يَحْثُو فِي وَجْهِهِ التُّرَابَ وَقَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَحْثُوَ فِي وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ

Dari Abu Ma’mar berkata: Seseorang berdiri lalu dia memuji salah seorang pemimpin, kemudian Al Miqdad menaburkan debu ke wajahnya, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah orang orang yang suka memuji.” (H.R. Tirmidzi No. 2316)

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan, Ibnu Baththol rahimahullah berkata : “Yang dimaksud hadits tersebut diatas adalah bagi orang yang suka memuji orang lain padahal pujian itu tidak ada pada orang yang dipuji. Selain itu Pujian juga terlarang jika tidak aman dari ujub (membangga diri) meski kedudukan orang yang dipuji memang seperti pujian itu, karena ini akan menyia-nyiakan amalan dan terlalu membebani diri.

Kesimpulannya adalah, memuji orang lain itu dilarang apabila :

  1. Pujian tersebut berlebihan
  2. Pujian tersebut tidak benar ada pada orang yang dipuji
  3. Pujian tersebut menimbulkan fitnah, berupa rasa ujub, dan sombong, pada diri orang yang dipujan

Pujian Yang Dibolehkan

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan memuji orang lain itu menjadi boleh, karena hal ini juga pernah terjadi pada diri Rasulullah ﷺ dan sahabanya. Dalam sebuah hadits disebutkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya: “Siapakah di antara kalian yang pagi ini sedang berpuasa?” Abu Bakar menjawab, “Aku.” Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini telah menghantarkan jenazah?” Abu Bakar menjawab: “Aku.” Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini telah memberi makan orang miskin?” Abu Bakar menjawab: “Aku.” Beliau bertanya lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Aku.” Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah semua itu ada pada seseorang kecuali dia pasti akan masuk surga.” (H.R. Muslim No.1707)

Syaikh Shalih Al-Utsaimin menjelaskan dalam Kitab Riyadus shalihin, dengan mengutip hadits diatas bahwa memuji orang lain itu diperbolehkan, asalkan memenuhi syarat sebagai berikut :

  1. Untuk menunjukkan dan menjelaskan keutamaan dan kemuliaan orang tersebut dihadapan orang lain, dengan syarat tidak berlebihan serta keutamaan tersebut benar adanya pada diri orang tersebut.
  2. Untuk memberikan motivasi dan dorongan agar orang tersbut semakin giat dalam melakukan kebaikan. Dengan syarat tidak timbu fitnah pada diri orang tersebut, berupa ujub dan sombong.

Baca Juga : Inilah Tanda-Tanda Allah Sayang pada Hambanya

Demikianlah pembahasan tentang hukum memuji orang lain dalam islam, semoga bermanfaat dan semakin menambah wawasan keislaman kita, Amin

Penulis Abu Abdillah

Tags
Lihat Lagi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close