Shalat

Tata Cara Shalat Istisqa (meminta hujan) menurut Sunnah

Ketika musim hujan telah berlalu, maka datangah musim kemarau. Namun beberapa tahun belakangan ini kita melihat fenomena cuaca yang tidak menentu baik berupa hujan terus-menerus sehingga menyebabkan banjir dan longsor, ataupun berupa kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran. Nah ketika Kaum Muslimin diberi cobaan berupa kemarau panjang, maka syariat Islam menawarkan solusinya yaitu dengan shalat istisqa. Shalat istisqa sendiri adalah shalat yang dilakukan untuk meminta karunia dari Allah berupa hujan.

Cara Shalat Istisqa

Diriwayatkan oleh imam nasa’i, telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Ghailan dia berkata; telah menceritakan kepada kami Waki’ dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam bin Ishaq bin ‘Abdullah bin Kinanah dari bapaknya dia berkata :

أَرْسَلَنِي أَمِيرٌ مِنْ الْأُمَرَاءِ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَسْأَلُهُ عَنْ الِاسْتِسْقَاءِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَا مَنَعَهُ أَنْ يَسْأَلَنِي خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَاضِعًا مُتَبَذِّلًا مُتَخَشِّعًا مُتَضَرِّعًا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدَيْنِ وَلَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ

“Seorang amir mengutusku kepada Ibnu ‘Abbas untuk menanyakan tentang shalat Istisqa, maka Ibnu ‘Abbas berkata; “‘Apa yang menghalanginya untuk bertanya kepadaku? Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam keluar dengan tawadhu’, berpakaian sederhana, khusyu’, dan merendahkan diri. Lalu shalat dua rakaat sebagaimana shalat dua hari raya, dan beliau tidak berkhutbah seperti khutbah kalian ini’.”

Baca Juga : Bacaan dan Cara Shalat Idul Adha sesuai Sunnah

Kesimpulannya adalah, cara shalat istisqa itu sama dengan shalat hari raya (idul fitri / idul adha) namun yang membedakan hanyalah pada Khutbah dan doanya.

Khutbah dan Sunnah Shalat Istisqa 

Yang paling afdhal adalah, setelah selesai shalat istisqa 2 rakaat, maka khatib menyampaikan khutbah dan juga mengganti lafal takbir (sebagaimana dalam shalat Idul Fitri / Adha) dengan lafal istighfar karena ini lebih sesuai konsteksnya saat meminta hujan. Dalam Kitab Busyral Karim, Syaikh Said bin Muhammad Ba’asyin menyampaikan :

ويخطب خطبتين كخطبتي العيد فيما مر فيهما لكن يجوز هنا خطبتان  أو واحدة على ما مر في الكسوف وكونها قبل الصلاة وبعدها أفضل لأنه أكثر من فعله صلى الله عليه … وفي أنه إذا خطب هنا استغفر الله بدل التكبير قبل الخطبة الأولى تسعا وقبل الثانية سبعا يقينا لأنه اللائق

Yang artinya:

“Khatib kemudian menyampaikan dua khutbah (sebelum dan sesudah shalat) seperti khutbah shalat Id sebagaimana yang telah berlalu. Dan didalamnya boleh disampaikan dua kali khutbah (atau satu kali juga boleh) sebagaimana telah lalu pada shalat gerhana. Namun Khutbah setelah shalat lebih utama karena lebih sering dilakukan oleh Rasulullah SAW… (Khatib beristighfar dalam khutbah sebagai pengganti takbir) sebelum khutbah pertama sebanyak sembilan kali dan sebelum khutbah kedua sebanyak tujuh kali dengan yakin karena itu yang layak,”

Memakai rida’ (semacam selendang atau kain) dan membalik posisi rida’ adalah disunnahkan dalam istisqa, yaitu dengan memindahkan kain yang disebelah kiri ke sebelah kanan, membalikan rida’ ini dapat dilakukan setelah berdoa, sebagaimana dalam hadits Abu Nu’aim ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Abdullah bin Abu Bakar dari ‘Abbad bin Tamim dari Pamannya ia berkata :

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَسْقِي وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar melaksanakan shalat istisqa’ dengan membalik selendangnya.” (H.R. Bukhari No.950)

Doa Shalat Istisqa

Adapun doa dilakukan setelah shalat istisqa, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah sebagai berikut :

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah turunkan hujan kepada kami, Ya Allah turunkan hujan kepada kami, Ya Allah turunkan hujan kepada kami” (H.R. Muslim No.1493)

Dalam riwayat hadits lain, telah menceritakan kepada kami Sahl bin Shalih telah menceritakan kepada kami Ali bin Qadim telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Yahya bin Sa’id dari ‘Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dia berkata ; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memohon turunnya hujan, beliau mengucapkan” :

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ هَذَا لَفْظُ حَدِيثِ مَالِكٍ

“Ya Allah, hujanilah hamba-hamba-Mu, binatang-binatang ternak-Mu dan tebarkanlah rahmat-Mu serta hidupkanlah tanah-Mu yang tandus.”  (HR. Abu Daud no. 994)

Hadits selanjutnya, masih dari Abu daud, Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Khalaf telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Yazid Al Faqir dari Jabir bin Abdillah dia berkata “Beberapa wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil menangis (karena kekeringan), Beliau kemudian berdo’a” :

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

“Allahummasqina ghaitsan mughiitsan marii’an naafi’an ghaira dharrin ‘aajilan ghaira aajilin”

Artinya :

Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang dapat menolong kami, yang menyenangkan kami, menyuburkan lagi bermanfaat dan tidak membahayakan, segera jangan ditunda-tunda”   (HR. Abu Daud no. 988)

Demikianlah artikel infoislam.id tentang tata cara shalat istisqa, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin…

Tags
Lihat Lagi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close