Hukum

Apa Hukum Menghadiri Pernikahan Non-Muslim

Islam adalah merupakan agama yang mulia, yang mengajarkan kasih sayang antar sesama umat beragama. Tidak dapat dipungkiri di lingkungan kita yang beragam ini interaksi antara umat Muslim dan umat-umat lainya akan terjadi dan akan saling bertoleransi. Lasntas timbul masalah, bagaimana apabila teman kita yang non-muslim mengundang kita dalam acara pernikahannya? Apakah harus diterima, atau ditolak ?! Untuk itu pada artikel ini infoislam akan mencoba membahas tentang hukum menghadiri pernikahan non-muslim, sebagai berikut.

Hukum Menghadiri Pernikahan Non-Muslim

Hukum asal setiap perkara adalah “mubah” atau boleh selama tidak ada dalil yang menerangkannya sehingga ia berubah menjadi wajib atau haram. Berkenaan dengan hal ini, Allah ﷻ berfirman :

لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ  ٨

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S. Al-Mumtahanah : 8)

Ayat tersebut diatas menyeru kita berbuat adil, sehingga hukum menghadiri undagan pernikahan non-muslim adalah “BOLEH” namun tidak wajib. Hal ini senada dengan pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah yang mengatakan :

“Bila ada tetanggamu yang kafir mengadakan resepsi pernikahan lalu mengundangmu, maka kamu boleh memenuhi undangan itu tapi hal itu bukan kewajiban. Namun apabila dalam acara itu ada kegiatan keagamaan atau syiar-syiar agama mereka, maka haram menghadiri undangan tersebut. Karena mengadiri undangan yang terdapat syiar-syiar kekufuran didalamnya sama saja dengan ridha terhadap kekufuran tersebut, dan hal itu sangat berbahaya bagi akidah seorang Muslim.”

Kemudian dalam Fatawa Al-Islam disebutkan :

“berinteraksi dengan orang kafir dalam masalah duniawi, seperti jual beli, menghadiri undangan, mengahdiri jamuan makan, atau hal-hal mubah lainnya maka hal ini diperbolehkan, selama tidak menimbulkan bahaya bagi agama seorang muslim. Bahkan sangat ditekankan apabila ketika menghadiri undangan mereka tersebut dapat menjadi sarana dakwah agar mereka masuk Islam.”

Berhati-hati Terhadap Hidangan Mereka

Justru hal yang tidak kalah penting untuk kita perhatikan adalah tentang hidangan atau makanan yang disajikan dalam undagan tersebut. Seorang Muslim perlu berhati-hati dan harus memastikan apakah hidangan tersebut halal atau haram. Kemudian apakah wadah dan dapur pengolahan makanan tersebut tidak bercampur dengan hal-hal yang diharamkan dalam islam. Apabila kita ragu terhadap hidangan mereka, maka sebaiknya kita tinggalkan dan tidak memakannya. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda :

عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْديِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْهُ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

Dari Abu Al Haura As Sa’di ia berkata, “Aku berkata kepada? Al Hasan bin Ali? radliallahu ‘anhuma, “Apa yang engkau hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” ia menjawab, “Aku menghafal dari beliau: “Tinggalkanlah apa yang meragukan kamu dan lakukan apa yang tidak meragukan kamu.” (H.R. Nasa’I No.5615)

Baca Juga : Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang Kafir

Demikialah pembahasan tentang hukum menghadiri pernikahan non-muslim, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan keislaman kita, Amin

Tags
Lihat Lagi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close